Selasa, 20 November 2012
Sabtu, 07 April 2012
It's me -_-
Di datarkan oleh kata-kata yang sungguh tak ingin aku dapatkan...
Ketika lelah oleh jalan yang kau tujukan kepadaku,
sungguh...
Aku tak tau harus megatakannya kpd mu,
atau entah kepada siapa.
Tersadar akan kenyataan yang ternyata,
menyentak seluruh perasaku
Sungguh.....
Demi apapun yang terlihat,
Bukan jalan seperti ini yang aku lihat sebelumnya...
iyaaa,,
kesadaran penuh yang tak ingin aku raih.
Ketika lelah oleh jalan yang kau tujukan kepadaku,
sungguh...
Aku tak tau harus megatakannya kpd mu,
atau entah kepada siapa.
Tersadar akan kenyataan yang ternyata,
menyentak seluruh perasaku
Sungguh.....
Demi apapun yang terlihat,
Bukan jalan seperti ini yang aku lihat sebelumnya...
iyaaa,,
kesadaran penuh yang tak ingin aku raih.
Senin, 23 Januari 2012
PERINGKAT UNIVERSITAS DUNIA 2012 Versi 4ICU
Senin, 09 Januari 2012 | [2061 Dibaca]
PERINGKAT UNIVERSITAS DUNIA 2012 Versi 4ICU
Belum lama ini, 4 International Colleges & Universities (4ICU) merilis kembali peringkat perguruan tinggi dunia edisi Januari 2012. Pada edisi ini jumlah perguruan tinggi yang terlibat sebanyak 11.000, tersebar dalam 200 negara. Pemeringkatan dilakukan berdasarkan popularitas situs perguruan tinggi, yang memenuhi kriteria berikut:
- Merupakan perguruan tinggi yang dikenal memiliki lisensi atau akreditasi dari pemerintah dan atau lembaga pemberi akreditasi
- Menyelenggarakan program pendidikan strata 1, 4 tahun, strata 2 dan strata 3.
- Menyelenggarakan model pendidikan tradisional face-to-face learning facilities, programs and courses.
Berbeda dengan edisi sebelumnya, peringkatan edisi Januari 2012 berdasarkan sebuah algoritma yang terdiiri dari 3 unbiased dan metrics web independen, dari 3 mesin pencari yang berbeda, yaitu:
- Google Page Rank
- Alexa Traffic Rank
- Majestic Seo Referring Domains
Hasil pemeringkatan dirilis setiap semester, yaitu pada Januari dan Juli. Pada edisi kali ini, lima besar dunia ditempati oleh MIT, Stanford University, Harvard University, University California Barkeley, dan The University of Texas at Austin, sepuluh besar dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat, sedangkan untuk regional Asia, China masih mendominasi. Tiga PT Indonesia yang masuk 100 besar Asia adalah ITB pada posisi 16, UI pada posisi 28, dan UGM pada posisi 45.
Pada edisi kali ini jumlah perguruan tinggi Indonesia yang dinilai mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yang awalnya hanya ada 154 perguruan tinggi menjadi 318 perguruan tinggi. Peringkat nasional masih dipimpin oleh ITB, UI, dan UGM, masing diperingkat pertama, kedua dan ketiga. Berikut disajikan dua puluh peringkat nasional dalam 2 edisi terakhir sebagai berikut:
| NO | NAMA PERGURUAN TINGGI | JULI 2011 | JAN 2012 |
| 1 | ITB | 1 | 1 |
| 2 | UI | 3 | 2 |
| 3 | UGM | 2 | 3 |
| 4 | UNIV GUNADARMA | 5 | 4 |
| 5 | UPI | 8 | 5 |
| 6 | UNDIP | 6 | 6 |
| 7 | UNIV SEBELAS MARET | 9 | 7 |
| 8 | ITS | 7 | 8 |
| 9 | UNAIR | 23 | 9 |
| 10 | IPB | 4 | 10 |
| 11 | USU | 10 | 11 |
| 12 | UNPAD | 12 | 12 |
| 13 | UII | 18 | 13 |
| 14 | UNBRAW | 13 | 14 |
| 15 | UNIV MERCU BUANA | 17 | 15 |
| 16 | UMY | 11 | 16 |
| 17 | UNIV KRISTEN PETRA | 15 | 17 |
| 18 | UNIVERSITAS SRIWIJAYA | 20 | 18 |
| 19 | UNIV SURABAYA | 32 | 19 |
| 20 | UMM | 14 | 20 |
source : http://www.unsri.ac.id/?act=info_detil&id=288
Selasa, 17 Januari 2012
Risalah Hati
Hidupku cintaku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Ku harus milikimu...
Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
beri sedikit waktu
biar cinta datang karena telah terbiasa
Simpan mawar yang kuberi
mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku Sebelum kau robek hatiku
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Ku harus milikimu...
Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
beri sedikit waktu
biar cinta datang karena telah terbiasa
Simpan mawar yang kuberi
mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku Sebelum kau robek hatiku
Pupus
Aku tak mengerti
Apa yang ku rasa
Rindu yang tak pernah
Begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau tak'kan pernah tahu
Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu
Diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara
Baru ku sadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Semoga waktu akan mengilhami
sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban
Hingga akhirnya kau pun mau
Aku mencintaimu
Lebih dari yang kau tahu
Meski kau tak'kan pernah tahu
Apa yang ku rasa
Rindu yang tak pernah
Begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau tak'kan pernah tahu
Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu
Diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara
Baru ku sadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Semoga waktu akan mengilhami
sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban
Hingga akhirnya kau pun mau
Aku mencintaimu
Lebih dari yang kau tahu
Meski kau tak'kan pernah tahu
Jumat, 13 Januari 2012
Kurikulum Ilmu Komputer Universitas Diponegoro
Kurikulum Ilmu Komputer Universitas Diponegoro
Semester 1
|
Semester 2
|
Semester 3
|
Semester 4
|
Semester 5
|
Semester 6
|
Semester 7
|
Semester 8
|
Kuliah Pilihan
Kamis, 05 Januari 2012
Siapa Mau Tarif Telepon Naik 40 Kali Lipat?
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

ilustrasi (ist.)
Jakarta - Harga lisensi dan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi telekomunikasi di Indonesia diklaim terlalu murah dibanding negara lain. Indonesia pun dinilai berpotensi kehilangan pendapatan negara hampir Rp 350 triliun.
Asumsi tersebut diutarakan oleh Center for Indonesian Telecommunications Regulation Study (Citrus). Tak pelak, pendapat itu langsung dibantah oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
BRTI menilai kebijakan untuk menahan harga frekuensi agar tak terlalu tinggi adalah wajar. Sebab, biaya frekuensi yang terlalu tinggi akan membebani industri, menghambat pengembangan layanan, dan menyebabkan tarif telekomunikasi yang diterima masyarakat jadi mahal.
"Jika mengikuti hitungan Citrus, dimana BHP frekuensi harus naik sekitar 40 kali lipat dari sekarang, maka semua kenaikan akan ditransfer ke konsumen," jelas anggota BRTI Heru Sutadi kepada detikINET, di Jakarta, Kamis (5/1/2012).
Sebelumnya, Direktur Citrus Asmiati Rasyid memaparkan bahwa pemerintah telah menjual spektrum frekuensi dengan harga yang terlalu murah dan berpotensi menyebabkan kerugian cukup besar bagi pendapatan negara.
Dalam paparannya, lembaga ini membandingkan harga per blok frekuensi 3G di Indonesia dengan India, dimana harga satu blok di Indonesia hanya Rp 160 miliar, sedangkan di India dihargai Rp 31,14 triliun. Citrus pun mengusulkan harga satu blok 3G di Indonesia dinaikkan jadi Rp 5 triliun.
Anggota BRTI M Ridwan Effendi mengaku heran dan mempertanyakan hasil studi tersebut yang dinilainya tidak relevan dan kurang teliti. Sebab, kata dia, perbandingan yang dilakukan tidak "apple to apple".
"Di India hanya sekali bayar di depan. Sementara di kita kan bayarnya annually alias tahunan selama 10 tahun, ya wajar saja kalau ada anggapan lebih mahal atau lebih murah," kata dia.
Lebih jauh ia memaparkan, di India, total spektrum 3G harganya USD 3 miliar atau Rp 27 triliun sekali bayar di depan. Sedangkan di Indonesia, untuk 10 kanal 3G, harganya sekitar Rp 35,2 triliun untuk waktu pakai 20 tahun dengan sekali perpanjangan.
"Itu belum termasuk dua kanal lagi yang akan dilelang. Belum termasuk faktor BI rate dan index populasi. Akan jadi lebih mahal ternyata. Tapi kalau ditotal keseluruhan, kira-kira imbanglah, antara yang dibayar tahunan dengan yang sekali bayar jika dilihat dari net present value-nya," papar Ridwan.
Sementara menurut Heru Sutadi, jika pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pungutan tarif dan biaya frekuensi seperti di India, maka dampaknya akan sangat terasa bagi masyarakat.
"Tarif telepon yang rata-rata Rp 600 per menit akan naik jadi Rp 24.000 per menit. SMS dari rata-rata Rp 150 akan jadi Rp 6.000. Dan layanan data yang saat ini rata-rata Rp 100 ribu per bulan akan jadi Rp 4 juta per bulan," kata dia.
Selain itu, kenaikan biaya frekuensi juga akan berimbas pada target lain yang dicanangkan pemerintah. "Dampaknya besar, target MP3EI tidak tercapai. komitmen WSIS tidak tercapai. Bahkan telko dan internet jadi elitis. Tidak lagi jadi enabler pembangunan karena sudah tidak terjangkau oleh masyarakat," sesalnya.
source: http://www.detikinet.com/read/2012/01/05/135638/1807398/328/siapa-mau-tarif-telpon-naik-40-kali-lipat
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
ilustrasi (ist.)
Asumsi tersebut diutarakan oleh Center for Indonesian Telecommunications Regulation Study (Citrus). Tak pelak, pendapat itu langsung dibantah oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
BRTI menilai kebijakan untuk menahan harga frekuensi agar tak terlalu tinggi adalah wajar. Sebab, biaya frekuensi yang terlalu tinggi akan membebani industri, menghambat pengembangan layanan, dan menyebabkan tarif telekomunikasi yang diterima masyarakat jadi mahal.
"Jika mengikuti hitungan Citrus, dimana BHP frekuensi harus naik sekitar 40 kali lipat dari sekarang, maka semua kenaikan akan ditransfer ke konsumen," jelas anggota BRTI Heru Sutadi kepada detikINET, di Jakarta, Kamis (5/1/2012).
Sebelumnya, Direktur Citrus Asmiati Rasyid memaparkan bahwa pemerintah telah menjual spektrum frekuensi dengan harga yang terlalu murah dan berpotensi menyebabkan kerugian cukup besar bagi pendapatan negara.
Dalam paparannya, lembaga ini membandingkan harga per blok frekuensi 3G di Indonesia dengan India, dimana harga satu blok di Indonesia hanya Rp 160 miliar, sedangkan di India dihargai Rp 31,14 triliun. Citrus pun mengusulkan harga satu blok 3G di Indonesia dinaikkan jadi Rp 5 triliun.
Anggota BRTI M Ridwan Effendi mengaku heran dan mempertanyakan hasil studi tersebut yang dinilainya tidak relevan dan kurang teliti. Sebab, kata dia, perbandingan yang dilakukan tidak "apple to apple".
"Di India hanya sekali bayar di depan. Sementara di kita kan bayarnya annually alias tahunan selama 10 tahun, ya wajar saja kalau ada anggapan lebih mahal atau lebih murah," kata dia.
Lebih jauh ia memaparkan, di India, total spektrum 3G harganya USD 3 miliar atau Rp 27 triliun sekali bayar di depan. Sedangkan di Indonesia, untuk 10 kanal 3G, harganya sekitar Rp 35,2 triliun untuk waktu pakai 20 tahun dengan sekali perpanjangan.
"Itu belum termasuk dua kanal lagi yang akan dilelang. Belum termasuk faktor BI rate dan index populasi. Akan jadi lebih mahal ternyata. Tapi kalau ditotal keseluruhan, kira-kira imbanglah, antara yang dibayar tahunan dengan yang sekali bayar jika dilihat dari net present value-nya," papar Ridwan.
Sementara menurut Heru Sutadi, jika pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pungutan tarif dan biaya frekuensi seperti di India, maka dampaknya akan sangat terasa bagi masyarakat.
"Tarif telepon yang rata-rata Rp 600 per menit akan naik jadi Rp 24.000 per menit. SMS dari rata-rata Rp 150 akan jadi Rp 6.000. Dan layanan data yang saat ini rata-rata Rp 100 ribu per bulan akan jadi Rp 4 juta per bulan," kata dia.
Selain itu, kenaikan biaya frekuensi juga akan berimbas pada target lain yang dicanangkan pemerintah. "Dampaknya besar, target MP3EI tidak tercapai. komitmen WSIS tidak tercapai. Bahkan telko dan internet jadi elitis. Tidak lagi jadi enabler pembangunan karena sudah tidak terjangkau oleh masyarakat," sesalnya.
source: http://www.detikinet.com/read/2012/01/05/135638/1807398/328/siapa-mau-tarif-telpon-naik-40-kali-lipat
Langganan:
Postingan (Atom)